PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1. Bagaimana anak belajar matematika?
Perlu diketahui bahwa kebanyakan anak pada awal-awal masuk sekolah akan belajar berawal dari situasi-situasi nyata atau dari contoh-contoh yang khusus bergerak ke hal-hal yang lebih bersifat umum. Sebagai contoh, adalah kurang tepat jika guru memulai konsep “bundar” melalui definisi. Namun akan lebih menguntungkan apabila guru memulai dengan memperkenalkan benda-benda yang sering di lihat anak seperti kelereng, bola pingpong, bola sepak, balon, dan sejenisnya. Melalui benda-benda itu anak akan mencoba mengklasifikasi benda yang disebut bundar. Kegiatan mengklasifikasi seperti ini dapat membiasakan anak mengamati dan memaknai sehingga sampai pada pemahaman tentang bundar.
Tentu saja matematika dapat diajarkan melalui melihat, mendengar, membaca, mengikuti perintah, mengimitasi, mempraktekan, dan menyelesaikan latihan. Perlu diingat, bahwa itu semua mengundang peran-serta guru yang seimbang dalam membimbing dan mengarahkannya. Pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur adalah, apakah dengan cara seperti ini anak benar-benar dapat memahami konsep yang diberikan dan memaknainya dengan baik? Memang, bagaimanapun kegiatan belajar siswa akan dipengaruhi banyak faktor, seperti pengalaman, kemampuan, kematangan, dan motivasi, sehingga teori belajar yang mana pun belum tentu cocok untuk anak pada tingkat dan untuk topik tertentu.
Pengalaman dengan benda-benda kongkrit yang dimiliki atau dikenal anak sangat membantu dalam mendasari pemahaman konsep-konsep yang abstrak. Guru harus terampil membangun jembatan penghubung antara pengalaman kongkrit dengan konsep-konsep matematika yang abstrak. Oleh karena itu benda-benda nyata dan benda-benda yang dimanifulasi akan sangat membantu anak di kelas-kelas rendah SD dalam belajar matematika. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran, terutama benda-nyata dan alat peraga, memiliki peranan yang penting dalam kegiatan pembelajaran matematika di SD untuk mencapai pemahaman dan pemaknaan matematika.

2. Bagaimanakah sebaiknya guru membelajarkan siswa?
Mengingat kompetensi dan tuntutan lainnya dari kurikulum, materi dan kedalaman matematika, esensi dari materi tersebut, serta keterpakaian dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari maka kegiatan pembelajaran bisa dikembangkan guru sesuai potensi yang ada. Tidak terlepas dari pandangan apakah matematika itu dan bagaimanakah anak belajar matematika, berikut ini adalah beberapa kiat bagaimanakah sebaiknya pembelajaran matematika dilaksanakan.
a. Mulailah dari apa yang diketahui anak, bukan dari apa yang diketahui guru
Mungkin hal biasa kalau guru beranggapan bahwa di awal pertemuan anak belum tahu sedikit pun mengenai materi pelajaran. Guru umumnya cenderung memulai pengajaran dari apa yang mereka ketahui, bukannya dari apa yang anak ketahui. Padahal pengalaman dan pengamatan anak sehari-hari dapat dijadikan pijakan awal untuk mereka belajar matematika. Jika anak memahami berdasarkan apa yang telah mereka ketahui atau berdasarkan pengalamannya, tentu saja akan lebih bermakna bagi mereka.
b. Sajikan matematika dalam suasana menyenangkan

Ditinjau dari sudut pandang psikologi pendidikan, menyajikan matematika dalam suasana menegangkan atau menakutkan tidak menguntungkan dalam mengundang potensi intelektual anak untuk belajar secara optimal. Suasana belajar yang baik bagi anak memerlukan dukungan iklim yang kondusif untuk dapat berpikir kritis, kreatif, dan eksploratif sehingga anak dapat bebas berpikir dan berpendapat sesuai dengan potensinya. Rasa percaya diri pada anak perlu ditanamkan sejak awal sebab akan berkontribusi terhadap kebiasaan berpikir dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, suasana pembelajaran matematika harus menyenangkan bagi anak.
c. Beri siswa kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berbicara, bekerja, dan menulis mengenai matematika
Berbicara, menulis, dan bekerja dalam bahasa dan cara mereka sehari-hari mengenai matematika bisa membantu meningkatkan pemahaman konsep-konsep abstrak matematika. Jika suatu fakta diperoleh anak melalui bahasa dan pengalaman mereka merupakan cara yang ampuh untuk memahami konsep atau proses.
d. Gunakan bahasa yang biasa (familier bagi anak) sebagai strategi awal
Anak akan mengalami kesulitan jika dihadapkan langsung pada konsep-konsep matematika yang abstrak. Misalnya, daripada melatih siswa kelas 6 untuk menghitung 1541 : 92 dengan pembagian cara ke bawah, akan lebih bermakna bagi siswa jika disajikan dalam cerita seperti: “ Murid kelas 6 akan berdarmawisata ke Yogyakarta yang berjarak 1541km dari Bandung. Jika bis yang mereka tumpangi rata-rata menempuh 92km setiap jamnya, perkirakan berapa jamkah mereka di perjalanan?”
e. Padukan matematika dengan pelajaran lain

Pendekatan ini sangat tepat dilakukan di sekolah dasar mengingat guru pada tingkatan sekolah ini kebanyakan masih sebagai guru kelas. Memadukan matematika dalam satu konteks dengan IPA, IPS, atau bahasa tidak mustahil dapat meningkatkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar matematika. Selain itu mereka dapat menyadari bahwa matematika itu bukan untuk matematika saja.
f. Manfaatkan rekayasa teknologi (kalkulator dan komputer)

Masyarakat kita masih menyangsikan akan peranan alat-alat canggih, seperti kalkulator dan komputer, dalam pembelajaran matematika. Para orang tua dan guru masih banyak yang beranggapan bahwa kalkulator akan membuat anak bodoh, tidak mampu berhitung, dan akan menjadikan anak bergantung pada alat. Anggapan itu sama sekali tidak benar sepanjang guru mampu memanfaatkan alat-alat itu dalam kegiatan pembelajaran matematika.
g. Gunakan media pembelajaran yang mudah diperoleh dan menarik

Peranan media atau alat peraga dalam pembelajaran matematika sangat urgen, sebab melalui alat peraga anak bisa belajar matematika dengan bantuan objek-objek nyata, merangsang melakukan percobaan dan pengamatan, dan mencoba menyingkap hal-hal baru bagi mereka. Banyak konsep abstrk matematika yang dapat dipresentasikan melalui benda-benda nyata sekeliling kita dalam upaya menanamkan konsep-konsep matematika yang kokoh.

h. Biasakan menyelesaikan suatu permasalahan dengan pendekatan problem solving

Salah satu tujuan pengajaran matematika di sekolah adalah membentuk siswa agar mampu berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif. Pendekatan problem solving dalam belajar matematika akan melatih siswa untuk berpikir efektif dan strategis dalam menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu untuk membentuk nalar siswa dalam menganalisis dan menjawab permasalahan-permasalahan, kemampuan siswa dalam problem solving perlu dikembangkan terus melalui pendekatan-pendekatan pembelajaran. Apabila memungkinkan, dalam setiap kesempatan pengenalan konsep matematika sebaiknya dimulai melalui masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).
i. Biasakan siswa untuk aktif bekerjasama dalam kelompok (cooperative learning)

Siswa membangun pengetahuan melalui konstruksi-konstruksi pemahamannya yang dapat diperoleh dari proses belajar atau pengalaman. Jika siswa mendapatkan sesuatu yang baru, maka persepsi dan konsep lama yang telah ada di kepalanya akan mengklarifikasi apakah hal baru itu dapat diterimanya sebagai konsep baru? Proses pengkonstruksian ini akan lebih cepat apabila dilakukan siswa melalui aktivitas dan sharing idea sesama siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s